Tubaba

“Sawah Palsu”, Inovasi Polres Tubaba Dukung Kemandirian Pangan

25
×

“Sawah Palsu”, Inovasi Polres Tubaba Dukung Kemandirian Pangan

Sebarkan artikel ini

Panaragan – pro dan kontra

Dalam upaya mendukung kemandirian pangan sekaligus mengantisipasi ancaman krisis pangan di masa depan, Kepolisian Resor (Polres) Tulang Bawang Barat (Tubaba) menghadirkan inovasi pertanian terpadu berbasis organik melalui program Polisi Peduli Pengangguran (Poliran). Inovasi tersebut mengusung metode “Sawah Palsu” atau Sawah Mina Padi IP 500 Berbiosaka yang memadukan budidaya tanaman padi dan ikan lele dalam satu sistem pertanian sederhana dan efisien.

Inovasi tersebut menjadi terobosan unggulan Polres Tubaba yang merupakan satu-satunya Polres di Indonesia yang mengembangkan metode “Sawah Palsu” atau Sawah Mina Padi IP 500 Berbiosaka, yakni sistem pertanian terpadu yang memadukan budidaya tanaman padi dan ikan lele dalam satu ekosistem sederhana, ekonomis, dan efisien. Inovasi ini diperkenalkan dan dibahas dalam acara Dialektika TubabaQ bersama Kapolres Tubaba, AKBP Himmawan Setiawan, S.I.K., M.Tr.Opsla, yang berlangsung di Ruang Kapolres Tubaba, Kamis (30/10/2026).

Metode “Sawah Palsu” merupakan sistem pertanian menggunakan kolam terpal yang memadukan penanaman padi di dalam polybag dengan budidaya ikan lele di bagian bawahnya. Sistem ini dirancang agar adaptif terhadap kondisi cuaca ekstrem, termasuk kemarau panjang, hemat ruang, serta lebih efisien dalam penggunaan air karena dapat meminimalkan penguapan.

Kapolres Tubaba, AKBP Himmawan Setiawan, menjelaskan bahwa inovasi tersebut lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan solusi ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat melalui metode pertanian yang murah, mudah, dan efektif.

“Kalau diandalkan pada semuanya harus ke pemerintah, ya anggaran pun pasti terbatas saat ini dengan program-programnya. Sehingga kita harus berinovasi bagaimana ini bisa dijadikan lapangan pekerjaan. Kita menyesuaikan saja, dan sawah palsu ini kan juga simpel, tidak perlu berlumpur-lumpur,” jelasnya.

Dalam penerapannya, sistem ini juga memanfaatkan Biosaka sebagai bahan berbasis rumput alami untuk mendukung pengelolaan budidaya. Pemanfaatan Biosaka diarahkan untuk membantu menetralisir amonia dan bau yang berasal dari kotoran ikan lele, sehingga limbah budidaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

“Biosaka itu tugasnya hanya untuk menetralisir amonia dan bau. Karena bau ini kan dari amonia, dan lele itu kalau terlalu banyak amonia pasti banyak yang mati. Kita gunakan Biosaka yang natural dan alami, sehingga kotoran lele bisa langsung kita sebarkan menjadi pupuk yang efektif,” ungkap AKBP Himmawan.

Keunggulan lain dari inovasi ini terletak pada efisiensi biaya dan kemudahan perawatan. Dengan memanfaatkan kolam terpal berukuran 10 x 10 meter dan polybag, masyarakat dapat mengembangkan sistem pertanian tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia industri. Bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar juga dapat dimanfaatkan untuk menunjang proses budidaya.

“Ternyata tanpa pupuk atau kimia-kimia industri itu, kita bisa kok bercocok tanam dengan yang murah, efektif dan efisien. Sawah palsu ini adalah hasil dari riset semua yang efektif, efisien dan murah, tapi bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” tambahnya.

Selain menghasilkan padi sebagai sumber pangan, budidaya ikan lele dalam sistem tersebut juga memberikan tambahan sumber protein sekaligus peluang pendapatan bagi masyarakat. Hasil panen ikan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun memiliki nilai ekonomis apabila dijual.

Melalui program Poliran, inovasi ini tidak hanya diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat dan membuka peluang usaha produktif guna menekan angka pengangguran.

Polres Tubaba berharap metode “Sawah Palsu” Berbiosaka dapat diperkenalkan secara lebih luas melalui edukasi dan pembinaan kepada masyarakat, sehingga dapat direplikasi di pekarangan rumah maupun lahan terbatas.

Dengan demikian, upaya mewujudkan kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat dimulai dari lingkungan keluarga melalui inovasi pertanian yang sederhana, ekonomis, dan berkelanjutan.

Example 300250
error: Content is protected !!