Bandar Lampung – pro dan kontra
Banjir yang melanda sejumlah wilayah Bandar Lampung setelah hujan deras mendapat sorotan dari akademisi Dedy Hermawan. Menurutnya, bencana ini bukan hanya dipicu oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh faktor lingkungan, perilaku masyarakat, dan tata kelola wilayah yang belum optimal.
“Banjir di berbagai daerah, termasuk di Kota Bandar Lampung, merupakan bukti nyata bahwa persoalan lingkungan perlu terus menjadi perhatian dalam kebijakan publik,” ujar Dedy.
Ia menekankan bahwa meluapnya sungai-sungai besar yang melintasi kota menjadi salah satu faktor utama banjir. Oleh karena itu, pengelolaan sungai oleh balai wilayah sungai perlu diperkuat untuk memastikan kapasitas sungai optimal, mengingat debit air meningkat drastis saat hujan deras.
“Jika kapasitas sungai tidak optimal akibat sedimentasi atau penyempitan alur, potensi luapan air menjadi sangat besar. Di sinilah pentingnya peran balai untuk memastikan pengelolaan sungai besar berjalan maksimal,” jelas Dedy.
Selain itu, ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani persoalan banjir secara menyeluruh. Semua faktor penyebab, mulai dari regulasi, anggaran, tata kota, hingga perizinan harus diperiksa dan disusun agenda besar untuk penyelamatan lingkungan.
“Apabila tidak dibenahi secara totalitas, pada musim hujan berikutnya, bahkan pada 2027, bukan tidak mungkin Kota Bandar Lampung dan daerah rawan banjir lainnya akan
semakin ‘tenggelam’ akibat banjir,” tegas Dedy, mengingatkan pentingnya langkah preventif.
Berita ini sekaligus menjadi panggilan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menata ulang strategi penanganan banjir dan perlindungan lingkungan secara menyeluruh di Kota Bandar Lampung. (*)













