Nasional

KPA Kembali Gelar ARMA 2026, Dorong Jurnalis Ungkap Konflik Agraria dan Perjuangan Reforma Agraria

17
×

KPA Kembali Gelar ARMA 2026, Dorong Jurnalis Ungkap Konflik Agraria dan Perjuangan Reforma Agraria

Sebarkan artikel ini

Jakarta — pro dan kontra

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) kembali menggelar Agrarian Reform Media Awards (ARMA) 2026 sebagai bentuk apresiasi terhadap karya jurnalistik yang mengangkat persoalan konflik agraria, perjuangan hak atas tanah, dan reforma agraria di Indonesia.

Penghargaan tersebut diselenggarakan menjelang Musyawarah Nasional IX KPA dan peringatan Hari Tani Nasional 2026. Pada tahun ini, ARMA didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dengan mengusung tema “Perjuangan Reforma Agraria di Tengah Investasi Oligarki, Otoritarianisme Pembangunan, dan Militerisme.”

Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika mengatakan, jurnalisme memiliki posisi penting untuk memastikan persoalan agraria tetap menjadi perhatian publik di tengah derasnya investasi dan pembangunan.

“Di tengah meningkatnya konflik agraria, menguatnya investasi skala besar, serta semakin luasnya keterlibatan aparat keamanan dalam urusan agraria, kerja-kerja jurnalistik yang independen dan berpihak pada kepentingan rakyat menjadi sangat penting,” ujar Dewi Kartika. 1 Agustus 2026.

Menurut Dewi, media tidak hanya berperan menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membantu mengungkap akar persoalan, menghadirkan suara masyarakat, serta mendorong pelaksanaan reforma agraria yang sejati.

KPA menilai kerja jurnalistik dalam isu agraria menghadapi tantangan besar. Jurnalis tidak jarang menghadapi keterbatasan akses informasi, tekanan, intimidasi, hingga ancaman keselamatan ketika meliput dugaan perampasan tanah dan pelanggaran hak masyarakat atas tanah.

Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya konflik agraria di Indonesia. Berdasarkan Catatan Akhir Tahun KPA 2025, tercatat 341 letusan konflik agraria dengan luasan mencapai 914.574 hektare dan berdampak terhadap 123.612 keluarga.

Jumlah konflik tersebut meningkat 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, kasus kekerasan dan kriminalisasi terhadap warga yang memperjuangkan hak atas tanah juga disebut meningkat 32 persen.

KPA menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya jurnalisme yang mampu membongkar relasi kuasa di balik konflik agraria, mengawasi kebijakan negara, sekaligus menghadirkan perspektif masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

Melalui ARMA 2026, KPA membuka kesempatan bagi jurnalis untuk mengirimkan karya terbaik mereka dalam tiga kategori, yakni jurnalistik teks, audio-visual, dan foto. Karya yang dikirim dapat berupa liputan investigasi, liputan mendalam, maupun feature.

Khusus kategori foto, karya yang dapat diikutsertakan berupa foto berita dan foto esai. Karya jurnalistik yang dilombakan harus telah dipublikasikan dalam periode 1 Januari 2025 hingga 31 Agustus 2026.

Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal tiga karya. Pengiriman karya dibuka pada 1–31 Agustus 2026 melalui surat elektronik armakpa2026@kpa.or.id.

Dewan juri ARMA 2026 terdiri atas Ketua Umum AJI Nany Afrida, Founder Watchdoc Documentary Maker Andhy Panca Kurniawan, kurator foto independen Oscar Motuloh, serta Sekretaris Jenderal KPA Dewi Kartika.

Karya terbaik dari masing-masing kategori akan memperoleh trofi ARMA 2026 dan uang apresiasi. Pemenang akan diumumkan dan penghargaan diserahkan dalam Malam Anugerah ARMA pada 24 September 2026 di Jakarta.

KPA berharap ARMA 2026 dapat mendorong semakin banyak karya jurnalistik berkualitas yang memperkuat kesadaran publik mengenai persoalan agraria struktural sekaligus mendorong kebijakan agraria yang lebih adil, demokratis, dan berpihak kepada rakyat.

Informasi ARMA 2026:
Website: www.kpa.or.id
Instagram: @tanahuntukrakyat
X: @seknaskpa
Email: armakpa2026@kpa.or.id
WhatsApp: 0851-2132-0994

Example 300250
error: Content is protected !!